Nora, Korban Kebusukan

setiap waktu dan peristiwa tidak akan aku lewatkan begitu saja
Sudah sekitar tujuh bulan, Muetia menjadi seorang wartawan di sebuah harian lokal terbesar di Banten. Selama itu pula, Muetia banyak menemukan serpihan-serpihan kebenaran yang selama ini tercecer bah kulit kacang yang dibuang sembarangan.
Mata Muetia terbelalak saat menatap hasutan, godaan, dan rayuan dari seorang anak manusia yang hatinya sudah teriris oleh pisau godaan . Maklum saja, selama ini ia hanya mendengar fakta itu dari seorang tokoh penyeruak kebenaran yang disampaikan melalui seminar disebuah tempat yang mewah, seperti hotel dan gedung dewan.
Namun, kini ia betul-betul melihat dan merasakan bagaimana kebenaran selalu disembunyikan oleh orang-orang yang sudah tergoda oleh kilauan permata, intan, dan emas yang kerap kali berkelebat menyandangi mata yang seringkali berkedip karena rasa malu saat mendengarkan hati nurani.
Pergumalan itu membuat Muetia semakin sadar bahwa godaan ada dimana-mana, tak terkecuali profesi seorang wartawan bah kilatan cahaya yang terkadang harus berbenturan dengan batang, ranting, bahkan tembok yang kekar yang selalu akan berdiri didepanya saat ia akan meloncat untuk berpihak kepada rakyat yang sudah lama dibodohi.
Fakta itu dijadikan oleh Muetia menjadi tantangan yang akan menjadikan ia manusia yang dewasa dalam artian mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi dalam batin Muetia ada sedikit kekhawatiran, mampukah ia menjadi seorang yang lembut dalam penuturan kata tapi tegas dalam mengungkap kebenaran.
Ike Yeni Riyana, salah seorang teman lama saya waktu SMA sering melontarkan sebuah pernyataan kepada saya setiap ketemu ataupun melalui SMS, atau email. “Karnoto sekarang sudah sukses yah,?. Kata Yeyen, nama akrabnya. Pernyataan itu cukup mengganggu dalam alam bawah sadar saya. Dan biasanya langsung sayang tanggapi dengan kata singkat. “Sukses apanya nih,”tanya saya.
Kemudian ia pun menjawab pertanyaan saya dengan bercerita. “Perasaan dulu kamu waktu sekolah sering bolos deh, tapi sekarang kok kamu jadi kreatif dan melebihi teman-teman yang dulunya terkenal pintar,”terang Yeyen dengan rasa penasarannya.
Akhirnya saya pun menjelaskan tentang konsep pendidikan di
Itulah sistem pendidikan yang sampai sekarang diterapkan. Bahkan para orang tuapun merasa kecewa ketika anaknya mendapatkan nilai dibawah standar. Padahal sebetulnya semua orang cerdas, hanya saja kecerdasaannya yang berbeda-beda.
Dan saat ini bukan jamannya menilai seorang dari nilai ulangannya saja. Namun harus dilihat dari berbagai sisi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita disibukan dengan rutinitas yang terkadang sering menjebak kita pada rapuhnya daya pikir dan mrembesnya otak kita dalam kepenatan. Jangankan untuk menyerap ide, mengingat apa yang sudah kita lakukan pun terkadang sering kelupaan. Sisi lain kita masih menanggapi hal itu dengan suatu kewajaran, namun jika hal itu kita biarkan berlarut-larut maka akan mengancam kemampuan kita dalam menelurkan sebuah ide. Kondisi ini harus segera diantisipasi, agar kita tidak menjadi manusia jumud alias primitif.
Apalagi bagi seorang yang mobilitasnya tinggi yang tidak bisa diam ataupun duduk manis di kantor meja atau di rumah tanpa melakukan sesuatu apapun. Tipe orang seperti ini tidak akan betah manakala hidup hanya untuk sebuah rutinitas saja. Hatinya akan berontak, jiwanya terus akan meraung seperti seekor harimau yang sedang lapar yang dihadapkan pada santapan, namun karena ketidakmampuanya untuk mengambil mangsa, ia hanya meraung-raung tanpa bisa berbuat apapun.
Jadi intinya adalah selalu munculkan pertanyaan –pertanyaan setiap melihat mendengar dan melakukan sesuatu. Masih ingatkan kita, ketika kita masih kecil, kita suka sekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita, bapak, ibu, kakak, dan adik sekalipun.
Kebiasaan itulah yang mulai hilang setelah kita merasa dewasa. Padahal kebiasaan itu sangatlah penting. Tanamkan karakter wartawan pada dirikita yang selalu ingin mencari tahu.
Setelah kita sudah membiasakan diri dengan pertanyaan, selanjutnya adalah jangan selalu merasa puas dengan apa yang sudah kita lakukan. Kalau sikap cepat puas kita pelihara maka hal itu akan membius jiwa kita kedalam kubangan kebodohan. Sikap cepat puas akan melahirkan karakter manusia yang kurang kreatif dan cepat nrimo. Tentunya ketidapuasan yang saya maksud adalah ketidapuasan yang didasarkan pada basic kelimuan yang tidak liar sehingga tetap berpedoman pada tuntunan illahi.
Jika kedua kebiasaan itu bisa kita terapkan maka kita akan menjadi manusia yang kaya akan ide. Tinggal langkah selanjutnya adalah bagaimana meralasisasikan ide yang sudah ada. Nanti kita bicarakan pada episode berikutnya. Selama mencoba
Beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu (28/10) saya dan dua rekan saya mengunjungi sebuah kawasan pantai di daerah Banten Selatan, tepatnya di Pantai Bagedur, Malingping Kabupaten Lebak. Kami berangkat dari Serang, karena kami menggunakan kendaraan pribadi, maka, perjalanan yang semestinya ditempuh empat hingga
Untuk menuju ke tempat ini, kita bisa menggunakan beberapa jalur, pertama kita bisa melalui jalan utama Pandeglang-Saketi. Namun jika kita ingin melewati jalur yang sepi, kita bisa menggunakan jalan pedesaan melewati Desa Petir. Perjalanan menuju ke tempat ini cukup berliku, sehingga kami sarankan bagi anda yang ingin berkunjung kesana harus hati-hati, terutama saat musim hujan. Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi, kami bertiga menikmati pemandangan di dataran tinggi, selain itu kami pun menikmati dinginya udara.
Setelah menempuh perjalanan cukup lumayan, kami bertiga pun sampai ke lokasi yang kami tuju. “Wah banyak sekali pengunjungnya,”kata Fitron, salah satu temanku yang ikut rombongan. Hari itu memang terlihat ramai sekali, maklum hari itu masih liburan lebaran. Umumnya mereka adalah pengunjung lokal.
Tampak pula beberapa polisi air sedang mengawasi para pengunjung, sembari basa-basi saya pun menghampiri salah satu polisi. Wau rupanya dia komandan di situ. Meskipun dia enggan menyebutkan nama, namun kami sempat berdialog sekitar 15 menit.
Selain soal keamanan yang terjamin, karean patroli polisi, namun tetap saja keselamatan ada pada diri si pengunjung. “Kami kan terbatas, jumlah dan mata kami terbatas, jadi 80 persen keamandan tetap ada pada pengunjung,”ungkapnya dengan nada tegas.
Nah selain keamanan, kita juga tidak perlu khawatir soal makanan, insya allah makanan di sini masih relative murah, meskipun agak mahalan dikit jika kita beli di pasar. Di sini enaknya kita membawa tikar dan makanan sendiri. Sebab di tempat ini ada sebuah tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pohon kelapa, jadi lebih santai. Akhirnya saya ucapakan selamat menikmati liburan di pantai Bagedur di Malingping Kabupaten Lebak, Banten.
Keceriaan Antinah, ibu beranak lima ini terpaksa harus tertahan di sela-sela ia melaksanakan ibadah puasa. Pasalnya ia harus mengalihkan perhatiannya kepada pintu gerbang Idul Fitri untuk mengikuti tradisi kebanyakan orang yang menggunakan pakaian baru, buat kue supaya tidak dikatakan ”ingkar” terhadap tradisi.
Hati Antinah memberontak, kenapa kekhusyuan ibadah kita harus terganggu hanya gara-gara tradisi yang Rasul sendiri tidak pernah menganjurkannya. Namun pemberontakan itu hanya mampu ia tahan dalam dadanya sebagai benteng pertahanan terakhir. Hatinya bergemuruh, darah pun mendadak mengalir begitu derasnya ketika setiap ia bertemu dengan tetangga ataupun rekan seprofesinya mengatakan, sudah membeli apa untuk lebaran atau sudah biki kue belum.
”Saya selalu katakan kepada mereka, apakah lebaran identik dengan serba baru.” tutur Antinah dengan nada sedikit kesal. Namun pemberontakannya porak-poranda ketika kelima anaknya meminta untuk dibelikan pakain baru akibat hasutan sang pemburu serba baru.
Ia pasrah dan harus rela merogoh koceknya.”Untuk lebaran tahun ini saya sudah menghitung dan dalam perhituangannya menghabiskan dana sebesar Rp 2.000.000 untuk lima anak plus kue,” kata wanita yang sehari-harinya menjadi guru di sebuah sekolah swasta. Antinah masih beruntung karena sang suami masih bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Lain halnya dengan yang diceritakan Bowo Suparno, penjual baso di kawasan Terminal Pakupatan. Ia mengaku sering dibuat pusing setiap menjelang lebaran, pasalnya ia harus mempersiapkan dana untuk persiapan mudik.”Kalau sekedar mudik sih tidak ada masalah,”ujar pria berkulit sawo matang ini kepada Radar Banten, Sabtu (114/10). Selain ongkos mudik Bowo harus menyiapkan uang untuk oleh-oleh saudaranya yang tinggal di kampung halaman. Sebab sudah menjadi kebiasaan pula bahwasanya setiap orang di daerahnya yang merantau dan sudah mampu membuat rumah cukup istimewa dalam pandangan masyarakat perkampungan, maka orang tersebut dianggap telah sukses merantau.
Persepsi itu yang menurut Bowo sendiri terlalu berlebihan dan ia mengaku tidak suka dengan perlakuan itu. Makanya setiap ia pulang kampung ia tidak pernah menggunakan mobilnya untuk mudik. Namun ia juga tidak bisa menolak dengan budaya itu, sebab mau tidak mau ia harus pulang untuk sungkem ke orang tua dan silaturahim kepada sanak saudara.”Kalau bukan karena orang tua, mungkin saya tidak pulang,” tutur Bowo, pria yang sudah mulai tumbuh uban.
Setiap tahunnya ia mengeluarkan uang hingga Rp 3.000.000 khusus untuk momen lebaran.”Sekarang bisa jadi membengkak seiring dengan bertambahnya jumlah saudara,”kata suami Pritani ini. Ia pun tidak bisa menghindar dari ”paksaan” tersebut. Sebetulnya ia merasa senang dengan momen lebaran karena bisa berkumpul dengan saudara yang selama ini terpisah. Namun disisi lain ia tidak suka dengan budaya konsumtif yang seolah sudah jadi karakter bangsa.
Sementara itu beberapa agen penjualan tiket mengaku ada peningkatan permintaan konsumen. Arif misalnya, pengelola jasa penjualan tiket Optima menuturkan. Sejak beberapa hari yang lalu, permintaan tiket naik hingga 100 persen. Masih menurut Arif, umumnya para konsumen sudah memesan tiket jauh-jauh hari sebelum lebaran, alasannya supaya lebih nyaman, karena arus mudik masih sedikit.